SEPTI’S EXPRESSION AND HER COCONUT

Her tummy is getting bigger. Medical team became worried. It’s been almost a month now that septi’s tummy is bloated. fruits that cause belly bloat immediately cut from her diet. ” Do not give jackfruit to Septi, ok.”, drh. Felista ordered.

Periodic anthelmintic treatments had been done, but Septi’s tummy still looks big. Examination of septi’s feces was carried out. Hopefully the result will not distressing. Jevri then got a trick, everytime he feeds Septi, he put it on various corners of the cage. “So that Septi not just sit in the corner.”, said Jevri when asked.

Yeah.. maybe Septi needs more exercise. It’s really cute when Septi enjoyed coconut that succesfully cracked open by herself. This picture will be the first Septi’s expression. Septi stares at us while chewing. “Her teeth gives goosebumps!.”

EKSPRESI SEPTI DAN KELAPANYA
Perutnya semakin membesar. Tim medis menjadi kawatir. Sudah hampir sebulan ini, perut Septi kembung. Buah-buahan yang menyebabkan perut tidak nyaman segera dibuang dari menu makanan Septi. “Jangan kasih nangka ke Septi ya.”, begitu pesan drh. Felista.

Pemberian obat cacing secara berkala sudah dilakukan, namun perut Septi masih juga terlihat besar. Pemeriksaan feses Septi pun dilakukan. Semoga saja hasilnya tidak semakin membuat kawatir. Jevri pun tak habis akal, setiap kali memberikan makanan ke Septi, Jevri meletakannya di berbagai sudut kandang. “Biar Septi tak hanya duduk di sudut saja.”, begitu kata Jevri saat ditanya. Ya… mungkin Septi kurang banyak bergerak.

Sungguh lucu saat Septi menikmati kelapa yang berhasil dibukanya. Ini menjadi foto dengan ekspresi Septi yang pertama. Septi menatap kami sambil mengunyah. “Giginya bikin merinding!”.

DANEL JEMY, THE ANIMAL KEEPER COORDINATOR

Lets meet the most senior animal keeper in COP Borneo. He is usually called Brother Anen. His name is Danel Jemy, with responsibility as animal keeper coordinator in orangutan rehabilitation center COP Borneo, Anen has to ensures the process of orangutan care run according to the procedures. In his young age, this position becomes so challenging. Anen is also a native son, come from Merasa Village, the nearest village to COP Borneo.

November 2015, is the time when Anen first joined the orangutan rehabilitation center. ” Take care of orangutans? Not an interesting or cool job. But Anen shows his dedication to the nature. Young and fast learning with full responsibility.”, said Daniek Hendarto, manager of COP ex-situ program.

Don’t ask how dexterous he is in taking care of orangutans. With confidence, Anen will handle the orangutans ranging from infants to adults. As a native son, Anen is also a master of blowpipe and gunshot. Always on target, so that orangutan who wants to be saved or moved not experiencing stress when dealing with the team.

Currently, there are 17 orangutans who is in his supervision. Anen even has to set the work rhythm of the other animal keepers. Work schedule as well as day-offs are in his setting. Of course it’s not an easy things to do, because not all orangutans want be with specific animal keeper. Anen has to understand the psychological orangutan and its keeper. But hard work and good work ethic make Anen carried out his work smoothly. (NIK)

DANEL JEMY, SANG KOORDINATOR ANIMAL KEEPER
Kenalan yuk dengan animal keeper yang paling senior di COP Borneo. Dia biasanya dipanggil bang Anen. Danel Jemy namanya, dengan tanggung jawabnya sebagai koordinator animal keeper di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Anen harus memastikan proses perawatan orangutan berjalan sesuai prosedur. Di usianya yang masih muda, jabatan ini menjadi begitu menantang. Anen juga merupakan putra daerah, kampung Merasa yang merupakan desa terdekat dengan COP Borneo.

November 2015, adalah saat Anen pertama kali bergabung di pusat rehabilitasi orangutan. “Ngurusin orangutan? Bukan kerjaan yang menarik atau keren. Tapi Anen menunjukkan dedikasinya untuk alam. Muda dan cepat belajar dengan penuh tanggung jawab.”, kata Daniek Hendarto, manajer program eks-situ COP.

Jangan ditanya kecekatannya merawat orangutan. Dengan percaya diri, Anen akan menangani orangutan mulai dari yang bayi hingga dewasa. Sebagai putra daerah, Anen pun jago menulup dan menembak. Selalu tepat sasaran, hingga orangutan yang mau diselamatkan atau dipindahkan tak sampai stres berhadapan dengan tim.

Saat ini, ada 17 orangutan yang berada dalam pengawasannya. Anen pun harus mengatur ritme kerja para animal keeper lainnya. Jadwal pekerjaan maupun libur ada dalam pengaturannya. Tentu saja bukan hal yang mudah, karena tidak semua orangutan mau bersama animal keeper tententu, Anen harus memahami psikologis orangutan asuh dan keepernya. Tapi kerja keras dan etos kerja yang baik membuat Anen dengan lancar menjalankan tanggung jawabnya. (NIK)

ORANGUFRIENDS MAKASSAR DI SIDIK

Tentu saja tidak ada orangutan di pulau Sulawesi. Namun luasnya jaringan orangufriends (kelompok pendukung orangutan) menjadikan perlindungan orangutan tak sebatas urusan Sumatera dan Kalimantan. Dua hari di bulan Maret 2018, orangufriends Makassar bersama Mapala Anoa Prodi Kedokteran Hewan Universitas Hasanuddin mengadakan kegiatan sosialisasi dan diskusi publik di kampus UNHAS Makassar.

Tema “Satwa Liar dan Permasalahannya”, dikupas dengan menarik oleh drh. Supriyanto dari BKSDA Sulawesi Selatan. Diskusi diawali dengan pengenalan satwa liar khususnya satwa endemik Sulawesi. Kemudian dilanjutkan diskusi satwa liar sebagai zoonotic pool oleh drh. Kristina Widyayanti dari Makassar Pet Clinic. Tak sebatas itu saja, adanya konflik antara manusia dan satwa juga dikupas oleh drh. Muhtadin Wahyu yang merupakan alumni PPDH Unsyiah.

20 Maret 2018 yang merupakan hari kedua dari rangkaian SIDIK (Sosialisasi dan Diskusi Publik) diisi oleh drh. Reski indah Kesuma yang merupakan alumni COP School Batch 4. Diskusi film “Orangutan sebagai Ancaman atau Korban?” menjadi begitu menarik. “Melihat antusiasme masyarakat yang sebagian besar adalah mahasiswa UNHAS dari berbagai disiplin ilmu, saya merasa satwa liar Indonesia termasuk orangutan masih mempunyai harapan untuk tetap eksis di masa depan.”, ujar Ekki yang telah menjadi relawan COP sejak empat tahun yang lalu.

Centre for Orangutan Protection adalah organisasi akar rumput yang mengandalkan para pendukungnya, seperti Ekki ini. Siapa pun dan dimana pun menjadi kekuatan COP menggalang publik untuk lebih peduli pada perlindungan orangutan. Mari bergabung menjadi orangufriends, email kami di info@orangutanprotection.com (Ekki_OrangufriendsMakasar)

Page 1 of 19912345...102030...Last »