60 JENIS BUAH MENANTIKAN BANTUAN ORANGUTAN

Selama satu bulan sejak pelepasan orangutan Novi dan Leci, tim APE Guardian sudah mengidentifikasi 84 jenis pohon buah. 80% nya merupakan pakan orangutan. Jadi saat orangutan memakan buah-buahan yang tersedia di hutan ini, orangutan pun mulai menjadi agen persebaran buah tersebut.

Sebut saja, rambutan hutan yang sedang dimakan Novi, tak lama kemudian, Novi berpindah tempat, menjelajah dan akhirnya beristirahat setelah berjalan sejauh sekitar 2 km. Di sela-sela istirahatnya, Novi berak, biji dari buah-buahan yang dimakannya tidak bisa dicerna dan akhirnya keluar bersama kotorannya.

Sore harinya, Novi mulai mematah-matahkan ranting, menjalinnya untuk dijadikan sarang sepanjang malamnya. Guguran daun-daun terlihat berserakan di lantai hutan bercampur dengan kotoran. Saat pagi dan matahari mulai menerobos di antara kanopi hutan berusaha mencapai lantai hutan untuk menumbuhkan tunas-tunas sebagai pengganti pohon-pohon yang tua dan mati.

Tanpa orangutan, hampir tak mungkin sinar matahari yang sangat dibutuhkan tunas-tunas tersebut sampai di lantai hutan. Tanpa orangutan tak mungkin biji-biji pohon buah itu berpindah tempat. Ya… hutan butuh orangutan untuk memperkaya dirinya.

BUAH KENARI KESUKAAN NOVI

Individu orangutan jantan bernama Novi ini memang kerap membuat tim monitoring kalang kabut. Setelah tidak terpantau jejaknya hampir selama dua pekan paska rilis, Novi kembali menunjukkan eksistensinya dengan bergelantungan di pohon. lalu dua hari berikutnya tim kembali kehilangan jejaknya. Selanjutnya, selang dua hari tim dibuat terkejut dengan kemunculan Novi di sekitar lokasi terakhir tim kehilangan jejak Novi.

Novi terus terlihat berayun kesana kemari di pohon kenari. “Ternyata si Novi ini suka buah kenari,” ucap Yusak salah seorang ranger yang tengah mengisi form pakan orangutan. Bagaimana tidak, dari menit awal Yusak mencatat, Novi banyak sekali makan buah kenari.

Rupanya, Novi suka rasa manis masam buah itu. Sampai-sampai membuat tim monitoring ingin mencicipi rasa buah kenari. Begitu ada buah kenari yang dijatuhkan Novi dari ketinggian pohon sekitar 20 meter, ada yang bergegas mengambilnya. Gigitan pertama membuat wajah Widi mengkerut. “Kukira manis, ternyata rasanya masam,” ungkap Widi relawan Tim APE Guardian. Pantas saja masam, ternyata Novi menjatuhkan buah kenari yang belum matang. Buah yang bentuknya mirip kacang almond ini, memiliki daging berwarna putih di dalamnya. Jika belum matang warna kulitnya hijau, begitu buahnya matang warna kulitnya berubah menjadi hitam dan ada tambahan rasa sedikit manis.

Saking doyan dan suka dengan buah ini, Novi tak ingin jauh-jauh dari pohon kenari. Beberapa kali Novi terpantau membuat sarang di dekat pohon kenari. “Mungkin setelah bangun tidur Novi bisa langsung makan buah kenari,” pikir para ranger. Ternyata perkiraan itu tidak meleset. Dari pukul 05.00 WITA tim memantau Novi yang kala itu masih mendekam di sarang, begitu terbangun Novi langsung bergegas berayun menuju pohon kenari.

Para ranger optimis bahwa Novi bisa menjadi agen dalam meregenerasi hutan, setelah menemukan kotoran Novi bercampur dengan puluhan biji kenari tercecer jauh dari pohon induknya. (REZ)

ORANGUTAN TERANCAM SML

Centre for Orangutan Protection (COP) menduga bahwa ijin usaha perkebunan milik SML di kecamatan Batang Kawa, kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah berada di kawasan yang merupakan habitat orangutan. Hal ini diperkuat dengan temuan sarang yang berada tepat di tengah ijin perencanaan pembukaan lahan. Hal ini semakin diperkuat dengan survei yang dilakukan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) tahun 2015, dalam laporannya yang berjudul “Survei Populasi dan Pengelolaan Konservasi Orangutan di areal Perkebunan Kelapa Sawit PT. SML”, menyataan bahwa terdapat 28 sarang dengan 6 jalur transek sepanjang 8.500 meter diperkirakan terdapat 0,23 individu/km2 di area PT. SML.

Tim COP menemukan tumpukan kayu tebangan dan jalan blok membelah hutan serta kawasan hutan yang sudah digusur untuk perencanaan perkebunan kelapa sawit milik SML. Di area jalan blok perencanaan pembukaan lahan yang dimaksud ditemukan setidaknya ada 4 sarang yang berjarak hanya 200-500 meter.

COP menduga bahwa setidaknya ada kurang lebih 10.000 hektar kawasan berhutan yang telah dibuka menjadi perkebunan kelapa sawit. COP berharap kawasan tersisa yang merupakan habitat orangutan harus segera diselamatkan dengan menghentikan segala proses pembukaan hutan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit.

Ramadhani, Manajer Perlindungan Habitat COP menyatakan, “Kita harus mendorong SML untuk menghentikan aktifitas yang membahayakan orangutan ini, serta memohon Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sesegera mungkin melakukan verifikasi ulang ijin perkebunan SML yang diduga berada di kawasan habitat orangutan.”.

Untuk wawancara dan informasi lebih lanjut dapat menghubungi :
Ramadhani
Manajer Perlindungan Habitat dan Orangutan COP
HP: +62 813 4927 1904
Email: info@orangutanprotection.com

Page 1 of 25012345...102030...Last »