MENANTIKAN TAJAMNYA INPRES MORATORIUM PERKEBUNAN SAWIT

19 September 2018, Presiden RI telah menandatangani Inpres Nomor 8/2018 tentang Penundaan dan Evaluasi Perizinan serta Peningkatan Produktivitas Perkebunan Sawit. Pemerintah menengaskan penghentian sementara ini selama masa tiga tahun.

Moratorium Perkebunan Sawit bertujuan untuk menata, membina serta menertibkan perizinan di kawasan hutan, peremajaan kelapa sawit untuk lebih produktif dan mengembangkan hilirisasi. Untuk itu diperlukan perbaikan pemerintah pada pengumpulan dan verifikasi atas data dan peta Izin Lokasi dan Izin Usaha Perkebunan atau Surat Tanda Daftar Usaha Perkebunan untuk lebih menekankan proses keterbukaan sehingga partisipasi publik pada Inpres ini dipandang hal yang berkeadilan bagi rakyat dan lingkungan hidup serta pemulihan ekosistemnya.

Centre for Orangutan Protection menyambut positif Inpres Moratorium Perkebunan Sawit ini. “Moratorium izin perkebunan kelapa sawit untuk tiga tahun ke depan harus menjadi saat untuk mengevaluasi kegiatan perkebunan kelapa sawit di Indonesia, mulai dari perizinan, penanganan konflik sosial dan satwa liar hingga perkebunan yang sudah berjalan. Namun juga harus diperhatikan bahwa Inpres ini diperuntukkan untuk kawasan hutan, lalu bagaimana yang statusnya di luar kawasan hutan yang mana persoalannya sama.”, ujar Ramadhani, manajer Perlindungan Orangutan dan Habitat COP.

Waktu tiga tahun adalah waktu yang sangat singkat untuk sebuah moratorium. Mari kita dukung pemerintah untuk tak sekedar evaluasi, tapi juga penegakan hukum atas penggunaan kawasan hutan untuk perkebunan kelapa sawit.

GIVING DAY FOR APES 2018

Time passes so quickly. We will celebrate the Giving Day for Apes again on September 25, 2018. Centre for Orangutan Protection really needs your help! Let’s celebrate the day by supporting the release of four orangutans that each of them has unique background story. Those who lived in zoo, toilet and lost his mother by the reason of palm oil plantation.

How do we easily remember the success of our life? Simply by donating to Giving Day for Apes. For those of you who celebrate birthdays or want to give presents for your loved ones, you can do it by donating to COP on Giving Day 2018. Of course, the orangtans of COP Borneo will be gladly accept it.

Let’s get to know the four orangutan release candidate this year. Do you remember Novi? Novi was first found, malnourished in a space underneath a house with a chain tied around her neck. The chain, which for five years tortured her day and night still leaves a scar. Her only friend at that time was the poacher’s dog. After rehabilitation process, Novi will be release back to his habitat.

Next month, the orangutan from the zoo will go toward the freedom. Untung, the lucky one, even with imperfect fingers, can still climb trees and move like other normal orang-utans. Of course, his disablity doesn’t prevent him to be one of the release candidates this year. After going through a series of medical examination, Untung was declared clean from infectious diseases.

Unyil, the orangutan that is very famous because finally he can live normally, not in the bathroom (toilet) like before. The rescue action was very dramatic because his birthday celebration as Valentino Unyil Ngau had just taken place. The keeper of Until finally gave him to be rehabilitated. His hair was just straightened, and made the rescue team wonder, what was wrong with Unyil’s hair.

One more heartbreaking story come from Leci. Leci was found in a fruit garden near palm oil plantation in Kebon Agung village, Sangatta, East Kalimantan. Alone without his mother. Leci was very wild, even he bit one of the rescue team member. He looked nervous in the cage, until the team close it so that he felt more calm. Given leaves and twigs was immediately greeted by arranging it into nests.

So would you help the four orangutans? https://givingdayforapes.mightycause.com/organization/Center-For-Orangutan-Protection They supposed to be in their habitat, living without any human intervention and develop their role as reliable natural reforestation agent. (SAR)

Waktu berlalu dengan cepatnya. Kita akan merayakan Giving Day for Apes lagi pada 25 September 2018 ini. Centre for Orangutan Protection sangat membutuhkan bantuan anda. Mari rayakan hari ini dengan mendukung pelepasliaran empat orangutan COP Borneo dengan latar belakang yang unik. Mereka yang hidup dari kebun binatang, toilet rumah dan yang kehilangan ibunya karena perkebunan kelapa sawit.

Bagaimana kita dengan mudah mengingat keberhasilan hidup kita? Cukup dengan donasi di Giving Day for Apes. Untuk kamu yang merayakan ulang tahun atau ingin memberikan hadiah untuk yang kamu sayangi, bisa dengan donasi COP di Giving Day 2018. Tentu saja orangutan COP Borneo akan dengan senang hati menerimanya.

Yuk mengenal keempat orangutan kandidat pelepasliaran tahun ini. Masih ingat dengan Novi, orangutan yang dipelihara di bawah kolong rumah penduduk berteman seekor anjing dengan leher dirantai? Setelah melalui rehabilitasi, Novi akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Bulan depan, orangutan dari kebun binatang akan menuju kebebasannya.

Untung si beruntung walau dengan jari tangan yang tidak sempurna, tetap bisa memanjat pohon dan beraktivitas seperti orangutan normal lainnya. Tentu saja disabilitasnya tak menghalanginya untuk tetap menjadi kandidat pelepasliaran tahun ini. Setelah melalui rangkaian pemeriksaan kesehatan, Untung pun dinyatakan bersih dari penyakit menular.

Unyil, si orangutan yang terkenal sekali karena akhirnya dapat hidup normal tidak di dalam kamar mandi (toilet) lagi. Aksi penyelamatannya yang sangat dramatis karena baru saja perayaan ulang tahunnya sebagai Valentino Unyil Ngau berlangsung. Si pemelihara Unyil akhirnya menyerahkannya untuk direhabilitasi. Rambutnya saat itu baru saja direbonding, sempat membuat tim penyelamat heran, ada apa dengan rambut Unyil.

Satu lagi kisah memilukan dari Leci. Leci ditemukan di ladang buah dekan perkebunan sawit di desa Kebon Agung, Sangatta, Kalimantan Timur, sendiri tanpa induknya. Leci masih sangat liar, bahkan salah satu tim penyelamat digigitnya. Selama di kandang, dia terlihat gelisah, hingga akhirnya tim menutup kandangnya agar dia lebih tenang. Pemberian daun-daunan dan ranting langsung disambutnya dengan menyusunnya menjadi sarang.

Jadi, maukah kamu mendukung keempat orangutan ini? Mereka sudah sepantasnya berada di habitatnya, hidup tanpa campur tangan manusia, dan berkembang di alamnya untuk menjalankan perannya sebagai agen reboisasi alami yang handal.

KINABATANGAN ORANGUTAN DIES WITH 3 BULLETS

Adult female orangutan found dead in Kinabatangan river, Malaysia, last Tuesday. There were wounds found on the stomach, shoulder and legs of orangutan that were estimated to be 30 years old. The orangutan’s death was caused by internal bleeding. Three bullets were found on her body.

The death of male orangutan with 7 airgun bullets in Serbian, Central Kalimantan last July are still fresh in our minds. Not just the death orangutan known as Baen in 2018 by airgun bullets. There were also another deaths such as headless orangutan body found in Kalahien river, Central Kalimantan, with 17 bullets and Kalahara 2 orangutan with 130 bullets in Central Kalimantan last February.

Eventually, tiny airgun bullets kill the orangutans that are animals protected by law and threatened to extinction. “Air gun uses regulation has been enacted to regulate but still freely used by some people. This is caused by the weak enforcement of the Chief of Police Regulation Number 8 of 2012 concerning Supervision and Control of Firearms for sport interests, not for losing lives.”

At the Asian Games 2018 sport event, Centre for Orangutan Protection fully supported Indonesian shooting athletes to not shooting animals as animals are not targets to shot. COP also emphasized that animal hunting is not a sport! (SAR)

ORANGUTAN KINABATANGAN MATI DENGAN 3 PELURU
Orangutan betina dewasa ditemukan mati di sungai Kinabatangan, Malaysia pada hari Selasa yang lalu. Terdapat luka pada bagian perut, bahu dan kaki orangutan yang diperkirakan berusia 30 tahun tersebut. Kematian orangutan tersebut disebabkan pendarahan bagian dalam. Pada tubuhnya ditemukan 3 peluru.

Kematian orangutan jantan dengan 7 peluru senapan angin di Seruyan, Kalimantan Tengah bulan Juli yang lalu masih segar dalam ingatan kita. Tidak hanya orangutan yang diketahui bernama Baen yang mati karena peluru senapan angin di tahun 2018 ini. Ada kematian orangutan tanpa kepala yang ditemukan di sungai Kalahien, di Kalteng dengan 17 peluru dan orangutan Kaluhara 2 di Kaltim dengan 130 peluru pada bulan Februari 2018 yang lalu.

Peluru-peluru senapan angin yang kecil akhirnya menghabisi nyawa orangutan yang merupakan satwa dilindungi Undang-Undang dan terancam kepunahan. “Peraturan penggunaan senapan angin pun sudah diatur. Tapi penggunaan senapan angin masih saja bebas. Ini karena lemahnya penegakkan Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api untuk Kepentingan Olahraga, bukan menghilangkan nyawa.”.

Pada acara olahraga Asian Games 2018 yang lalu, Centre for Orangutan Protection mendukung penuh atlet cabang olahraga menembak Indonesia bahwa satwa bukanlah target yang harus ditembak. COP juga menegaskan bahwa berburu bukanlah olahraga! Teror Senapan Angin.

Page 1 of 23112345...102030...Last »